Kamis, 07 Juli 2011

Bandung Dan Angklung

Mendengar kata Bandung kita akan teringat sebuah tag line Paris Van Java. Benar saja kota ini begitu modis dan trendy. Disepanjang jalan ada saja outlet distro yang adu unik. Melihat distro-distro ini yang ada dibenak kita adalah salut. Bayangkan saja toko mungil disulap sedemikian rupa menjadi sesuatu yang benar-benar enak dipandang mata. Ini benar-benar mengingatkan saya pada sebuah lagu lama yang berbunyi.
Dari mana datangnya lintah
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun kehati.
Sipemilik distro rasa-rasa begitu menghayati lagu dan sekaligus pantun ini. Karna begitu melihat distronya, setiap mata akan tertuju dan akhirnya mulai jatuh hati untuk masuk dan akhirnya membeli.
Bandung begitu dinamis dengan perkembangan musik yang banyak melahirkan band-band beken dinegri ini. Kota ini tak hentinya berdandan baik siang dan malam. Jika siang aktifitas begitu padat, malampun tak kalah. Julukanya sebagai kota kembang memang nyata. Lihat saja banyaknya kembang berserakan tak terurus dipinggir jalan, di tempat hiburan malam dan banyak lagi. Tatanan kota dengan berbagai macam kafe dan tempat hiburan ditambah dengan gaya anak mudanya membuat kita serasa berada di Paris.
Teman satu kantor saya begitu akan berangkat sudah mulai banyak mendapat pesanan dari keluatga dan teman-temanya. Yang mesan baju, celana, sepatu sampai bed cover. Wah Bandung berarti Belanja. Selama beberapa hari jalan-jalan, kami memutuskun untuk menjadikan satu hari menjadi hari pribadi. Jadi setiap orang boleh pergi kemana saja yang ia suka. Mau sendiri boleh, berkelompokpun oke. Ternyata benar saja teman-teman saya memilih untuk shoping. Saya bukan orang yang tidak suka berbelanja, tapi saya khawatir tidak bisa menemukan mutiara sejati dari Bandung. Saya menghubungi sahabat saya Gira, ternyata ia sedang ada di Bogor. Sayapun akhirnya memutuskan pergi dengan bus kota. Sebenarnya lumayan ragu juga karna begitu ditanya sama penumpang bus semua menjawab tidak tahu. Beruntung seorang mahasiswi memberi petujuk dimana saya harus turun. Begitu turun dari bus saya langsung mencari becak. Bapak tua itupun mengantar saya didepan sebuah pintu masuk. Dari luar terlihat begitu teduh dengan banyaknya bambu yang ditanam.
Begitu menjumpai penjaga, dia langsung menyambut saya, katanya sahabat saya Gira sudah memberi informasi terkait kedatangan saya. Diapun memberi tiket dan kalung angklung gratis.Acara akanmulai beberapa menit lagi, jadi saya masih memiliki kesempatan berkeliling di area cindera mata. Tempat pertunjukan yang dibuat seperti seperti stadion. Pemandu acarapun mempersilahkan kami mengambil tempat. Begitu melihat anak-anak yang memegang angklung dengan tangan mungilnya. Saya sudah sedikit ragu. Yang benar saja saya sudah jauh-jauh ternyata hanya menemukan bocah-bocah ini. Usianya masih layaknya anak TK dan SD. Perasaan itu langsung kabur begitu menyaksikan mereka memainkan angklung. Luar biasa cara mereka memainkan angklung dengan berbagai jenis lagu. Acarapun disambung dengan tari topeng yang lagi lagi dimainkan anak-anak. Selanjutnya acara wayang kulit.
Disini pengunjung akan diberitahu rahasia pertunjukan, mulai dari cara penari menggigit topeng saat menari, dalang yang memainkan tangan dan kakinya dibawah meja dan yang paling spesial pengunjung diajarkan bermain angklung. Wah semua pengunjung yang 99% bulepun antusias, apalagi saya yang asli Indonesia. Angklung berdasarkan tangga nadapun dibagi. Kebetulan saya dapat angklung DO. Kami mengikuti petunjuk dari dirjen yang telah memberi klu dengan jarinya. Awalnya suaranya tidak beraturan. Begitu masuk lagu berikutnya. Harmonisasi terjalin sudah.Kami diajak memainkan berbagai macam lagu dari berbagai negara. Diakhir acara kamipun diajak menari oleh anak-anak ini. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Terimakasih Mang Udjo. Saya berani jamin begitu anda ke Angklung Mang Udjo anda akan segera mengganti tag line Paris Van Java menjadi Java Van Paris.

0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates